Apa yang Kita Bicarakan Ketika Kita Membicarakan Kematian

SAYA mengamati jasad saya sekali lagi. Menancap di dada saya adalah bayonet milik seorang Austria yang, sebelum nyala nyawa saya berakhir padam, telah saya cekik sekuat-kuatnya dengan harapan rigor mortis akan bekerja dan mematahkan batang leher si anak sundal yang dalam keberuntungan seumur hidupnya telah menusuk jantung seorang perwira Kekaisaran Rusia. Saya mendengus. Bau sulfur, darah, dan lumpur hangus tercium; di langit salju jatuh mengubur para pria mati. Lalu saya memanjat parit dan memandang sekitar medan perang. Malam ini, tanggal 7 Januari 1915, resimen saya khatam.

“Bagaimana akhirnya, Tuan?”

Si Austria itu—anggaplah bernama Franz—duduk bersila dekat mayatnya yang tercekik dan tertindih mayat saya. “Siapa yang menang dan yang kalah?”

Saya menjawab tanpa melihat wajahnya. Di depan mata saya adalah pembantaian serempak oleh peluru, meriam, serta baja tajam; adakah dari kami yang dapat mengaku menang?

“Kurang lebih seri. Seperti kita.”

“Sama-sama hancur, ya?” Franz bangkit sambil terkekeh dan naik ke atas, berdiri di samping saya. “Ah, tapi apa pentingnya itu sekarang. Tuan mau rokok?”

“Barusan kita saling bunuh.”

“Justru karena itu, Tuan,” dia menyuguhkan kotak sigaretnya pada saya. Sebatang saya ambil dan selipkan di bibir. Kemudian Franz merogoh geretan dari saku seragamnya dan menyalakan rokok saya. “Justru karena itu.”

“Perang sudah selesai.”

“Sebelumnya kita musuh.”

“Tapi kita sudah mati dan perang sudah meninggalkan kita,” Franz menyalakan rokok. “Apa Tuan sendiri masih punya alasan untuk membinasakan saya sekarang?”

Rokok saya hisap dan kembali mata saya melihat depan pada padang putih lapang dan langit hitam tanpa bintang, di mana mereka memotong bumi menjadi dua himpunan ruang yang saling berlawanan, selayaknya hubungan hidup-mati; benar-salah; maupun para santo dan orang-orang murtad ….

“Menurut Tuan, apa yang akan terjadi pada kita nanti?” kata Franz.

“Maksud Anda?”

“Ya Tuan tahulah. Kehidupan setelah mati, pengadilan terakhir, sic transit gloria mundi dan seterusnya.”

“Entahlah,” saya mengembuskan asap rokok. “Saya belum melihat malaikat ataupun setan-setan.”

“Atau mungkin semua itu memang tak pernah ada?” kata Franz. “Saya pernah dengar, seorang filsuf dari Jerman memvonis mati Tuhan.”

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, dia akan hidup walaupun dia sudah mati,” kata saya. “Dan Yesus tidak berbohong.”

Franz tak membalas dan melanjutkan merokok. Salju makin deras. Suara-suara hilang, senyap.

“Tuan punya keluarga?”

“Saya punya istri dan satu anak laki-laki,” mulut saya mendadak pahit. Nyaris setahun saya tinggalkan mereka, untuk memenuhi panggilan Tsar kami Nicholas II … bagaimana kabar mereka? Teringat malam terakhir saya di rumah. Baik saya dan istri saya Katya tidak tidur dan tidak berbicara. ‘Aku pasti pulang,’ kata saya padanya. Dia menangis.

“Mereka akan meratapi Tuan.”

Dan terbayang dalam kepala; sosok istri serta anak saya, mendapat surat saya pulang tinggal nama, menangisi makam kosong tak berjasad … kemudian apa? Begitu sajakah? Secepat kilat wajah mereka datang menyambar … dan potret-potret kenangan meluap banjir bandang: tamasya; matahari Krimea; tawa canda riang. Katya memakai bonet krem duduk di bawah pohon membaca Turgenev, dan Ilya putraku berkuda kutuntun di tepi pantai rambutnya tersibak dibelai angin sepoi. Mataku memanas. Ya Tuhan, alangkah kejam rindu mencengkeram! Mengapa Kau panggil aku sekarang? Sebelum aku sempat mengatakan perpisahan? Sementara pintu kerajaan-Mu pun masih Kau kunci rapat ….

“Anda sendiri?” aku membuang sigaretku ke tanah dan menginjaknya sampai hangus.

Mengapa Engkau meninggalkan aku?

“Saya tidak berayah dan ibu saya telah meninggal. Di masa kacau seperti sekarang, orang semacam saya tak akan dikenang—satu dari ratusan ribu pemuda yang terdaftar di kolom kecil koran, tertulis: gugur dengan gagah berani di Przemyśl, Vistula, dan Rafajlowa,” kata Franz. “Kelak sebuah monumen akan dibangun seusai perang … sebagai nisan kami martir-martir terbuang dan terlupakan, ditegakkan di tepi kota, dan dibaptis tahi burung.”

Dosakah alasan-Mu? Ya, para pemuda itu! Aku melihat bangkai mereka yang remuk pecah dan hancur; tangan-tangan lebam menggapai terkubur seolah hendak menolak maut. Mati. Menggelepar. Seperti anjing. Dosakah aku?

Aku berjalan meninggalkan Franz. Berpikir. Dia menyusul langkahku dari belakang.

“Tuan mau ke mana?”

Sepanjang jalan kudengar jerit-jerit bisu menghakim pembunuh pembunuh pembunuh aku melihat kepala dan badan-badan buntung tenggelam tersapu salju—siapa pelakunya, siapa yang bersalah? Derap kaki kian kencang. Keringat dingin. Mata memburu: mayat-mayat. Tuhan.

“Tunggu saya, Tuan!”

Di mana api-Mu? Aku mencari, terus mencari, hampir-hampir berlari pada padang putih lapang tanpa batas melintas kaki-kaki putus terhunus lurus seperti salib-salib neraka, Tuhan di mana api-Mu? Aku berhenti. Melihat serdadu Austria sangat muda telentang sekarat merintih terbata. Lehernya berlubang. Mengucur nanah. Tangan kirinya gemetar, menggenggam rosario tak sampai ke bibir … berdoa setengah gila. Kemudian mati.

Aku mendekat. Melihat wajahnya, rambutnya. Melihat matanya yang menatap mataku menuntut tolong—dia bisa saja putraku dan darahnya adalah darahku dan atas restuku tewaslah dia … oh. Oh. Astaga.

“Tuan punya penyesalan?”

“Penyesalan!” aku memalingkan muka darinya. “Penyesalan apa lagi?”

“Tuan berbohong.”

“Tahu apa kau?”

“Karena Tuan masih gentayangan seperti saya,” kata Franz. “Karena Tuan belum siap mati.”

Aku terhenyak, terhentak, jawaban Franz menghantam bagaikan halilintar. Itulah kebenaran sesungguhnya, kenyataan terjahat, dan seketika segala benteng dalam hatiku rubuh serentak, hilang sudah segenap kekuatan, dan aku jatuh berlutut di tanah, telapak tangan membenam wajah, dan akhirnya, aku mengaku.

“Ya! Dan jahanamlah aku … aku takut! Dosaku menumpuk berbukit-bukit: berapa nyawa yang lebur oleh mulut dan jari telunjukku? Sekali kubilang ‘tembak!’ maka pada detik itu pula kurampas seorang istri dari suaminya, dan anak-anak dari bapak mereka. Aku adalah mesin paling mengerikan yang pernah berjalan di bumi Tuhan—sebuah mesin perang! Namun setelah kabut mesiu pudar, dengan ringannya kubaca Injil; berdoa memohon ampunan-Nya, walau dalam kesadaran penuh telah kukhianati janjiku pada Yesus: janganlah engkau membunuh,” kataku. “Dan inilah ganjaran-Nya! Dia telanjur muak melihat diriku, murka mendengar dustaku, maka gerbang Hades pun tertutup, karena menghukum aku Dia tak sudi … kini jiwaku adalah jiwa laknat; selamanya terkutuk untuk mengembara dan menanti, menanti, hingga sangkakala maut berbunyi, dan Dia datang kembali ….”

Franz tertawa. “Ah, Tuan ini terlalu muluk bicaranya,” dia membuang rokoknya. “Sejarah manusia tak kekurangan pembunuh; banyak dari mereka lebih biadab dibanding Tuan. Jika Tuhan suruh mereka semua menggelandang, pastilah bumi penuh sesak. Dan kita tidak bertemu siapa-siapa.”

“Lalu kenapa aku masih di sini? Jika cahaya tujuanku, di mana para malaikat? Jika api tujuanku, di mana para iblis?”

“Apa Tuan betul menginginkan kedua hal itu?”

Aku tak menjawab.

“Tuan pria yang baik.”

“Aku … aku rindu keluargaku. Istriku. Anakku. Aku ingin pulang. Aku takut, aku khawatir, apa yang akan terjadi pada mereka kelak? Ilya, putraku lelakiku; begitu banyak hal yang belum kuajarkan padanya! Dan istriku Katya, o, dia akan jadi janda, sedang negara kacau, orang-orang kelaparan … siapa yang menjaga mereka?”

“Bila Tuan percaya pada Tuhan, maka serahkan mereka pada-Nya; bila Tuan merindukan mereka, maka berdoalah agar kalian bisa bertemu kembali di kerajaan-Nya.”

“Jadi maksudmu aku tak perlu mengkhawatirkan mereka?”

“Tentu. Bukankah Tuhan selalu menyertai kita semua?”

“Lantas apa yang dapat kulakukan?”

“Tuan ada rencana setelah ini?”

“Aku … entahlah.”

“Hm. Mau jalan-jalan? Mana tahu ada hantu-hantu lain di sini.”

“Lalu?”

“Mungkin kita bisa bentuk kesebelasan dan tanding sepak bola.”

“Seperti tentara Inggris dan Jerman, waktu Natal setahun silam?”

“Kurang lebih.”

“Katanya itu mitos.”

“Bakal hebat kalau kita wujudkan.”

“Saljunya terlalu deras.”

“Tuan sudah pernah mati sekali,” Franz mengulurkan tangannya padaku. “Dan kita punya banyak waktu. Mari.”

Aku meraih tangannya dan menengadah hendak melihat wajahnya, namun Franz telah menghilang. Air mata mengalir. Di hadapanku berdiri Kristus. (*)

Bandung, 2016. Ilustrasi oleh Ellen Wilson, Winter Landscape with Tree, 1911-12.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s